Sabtu, 07 Februari 2009

Jalan Umum

”Heii..kalo nyebrang, pake mata dong!!” begitu bentak sopir angkot pada seorang pejalan kaki setengah baya yang nyaris keserempet kendaraannya.
Walaupun cukup sering mendengar umpatan serupa dari seorang pengendara mobil kepada pejalan kaki, aku tetap merasa tidak semestinya mereka seperti itu.

Suatu kali, secara kebetulan aku pernah mendengar omelan seorang pejalan kaki yang terciprat air genangan sisa2 hujan yang dihempaskan oleh sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Langsung saja sederet sumpah serapah keluar, yang kalo dibayangkan. isinya sangat mengerikan!
Bagaimana kalo umpatan atau sumpah itu bernilai doa di mata Allah? Bukannya mereka tidak bedanya seperti orang2 terzalimi? Mungkin sebaiknya, kita juga tidak mengumpat seorang pejalan kaki, yang belum tentu benar2 salahnya. Bisa jadi... justru kita yang salah, Maaf!
Yang namanya jalan umum, boleh digunakan oleh siapapun. Pemilik kendaraan dari roda dua, tiga, empat sampai enambelas, ataupun pejalan kaki. Yang penting kan semua ada aturannya.
Nah... ngomong2 soal aturan, ternyata tidak semua etika berkendara di jalan umum, masuk dalam aturan yang sudah ada.

Pernah dari sebuah acara, aku pulangnya ikut mobil seorang rekan, namanya Rully. Malam itu udara terasa sejuk, sehingga kami tidak perlu menggunakan AC mobil karena sore tadi Bandung diguyur hujan yang lumayan deras. Mobil melaju tidak terlalu kencang, ketika kami merasa mobil kami telah menghempaskan genangan air di pinggir jalan dan... mengenai seorang ibu pejalan kaki.
Ciiiit!!! Rully segera menghentikan mobilnya dan mundur sejauh tidak kurang dari 70 meter dari genangan air tadi.
”Kena ga?” tanya Rully. Yang dimaksud adalah... apakah hempasan genangan air oleh ban mobilnya menyebabkan si ibu pejalan kaki tadi, terkena?
Agak sedikit ragu, aku bilang... ”Kena...”
Sesampainya di depan ibu pejalan kaki tadi, Rully segera turun dan meminta maaf atas segala tindakannya tadi. Si ibu yang sedang mengibas-ngibaskan tangannya ke beberapa bagian pakaiannya, terlihat tersenyum. Apalagi setelah kami menawarkan diri untuk mengantarnya sampai ke tempat tujuan.

Dalam perjalanan pulang, aku nanya ke Rully... tentang sikapnya tadi, sambil memberikan asumsi bahwa... si ibu pejalan kaki tersebut terlihat ramah dan ikhlas... mungkin Rully tidak perlu memundurkan mobilnya untuk meminta maaf.
Dan anda tahu??.. Aku terus tersenyum sampai di rumah setelah mendengar jawaban Rully seperti ini... ”Kamu betul, mungkin ibu itu ikhlas dan tidak marah, bahkan mungkin aku tidak perlu berhenti setelah 70 meter dari genangan air tadi. Tapi... bagaimana kalo Allah yang tidak ikhlas, dan menjadikan 10 meter berikutnya... adalah kesempatan terakhir aku mengendarai mobil ini?”

Hmm... Rully, Rully... Aku dengar, kalo sedang bersepeda atau naik motor, sahabatku satu ini juga akan turun dan menuntun kendaraannya saat melewati orang2 yang sedang duduk di tepi jalan atau di sebuah gang.
Satu kebiasaan yang aku kira telah hilang sekitar 15 atau 20 tahun yang lalu.

Tidak ada komentar: